Kisah Anak Desa
Alkisah disebuah desa kecil ada satu keluarga yang tinggal
dengan 6 orang anak
tak bisa di pungkiri
hidup di desa dengan banyak anak membuat mereka kesulitan untuk memenuhi
kebutuhan. Dengan sang ayah yang sakit sakitan menambah beban hidup.
Untuk membantu orang tua anak-anaknya sekolah hanya lulusan
SD. Semua anaknya berusaha untuk membantu orang tuanya. Namun nasib telah di
garis Tuhan maka keadaan terus bertambah
parah.
Dan keluarga itu memutuskan untuk kembali ke kota dengan
harapan agar kehidupan ini lebih baik. Apalagi ayah mereka semakin parah. Semua
di jual baik rumah, dan tanah untuk ongkos ke kota.
Sesampainya di kota , satu persatu anak –anaknya mulai bekerja
hidup di rumah orang di usia muda rasanya sangat dicabik ingin sekali
menghabiskan masa anak anak bersama rasanya hanyalah sebuah mimpi.
Bekrja bekerja itulah sembonyang keluarga kecil ini,
Tak lama kemudian sang ayah meninggal.
Ketika itu anak kecilnya laki-laki berusia 7 tahun bekerja
sebagai pencuci gelas, di rumah makan
Sebelum meninggal pada malam hari sang ayah memanggil
anaknya laki-laki ini, anak manjanya yang sulung.
Dengan batu-batuk sang ayah meminta uang kepada sang anak
“nak bisa bapak pinjam uang mu, kalau ada uang bapak pasti
bapak ganti”
Sang anak sangat kesal dimana dia sedang makan lalu
dipanggil Cuma minta uang .
Kesal pasti marah ia.. dengan sabar sang anak memberi uang
20rb kepada sang ayah lalu pergi.
Tak di sangka pertemuan dan percapakan itu adlah yang
terakhir pada sang anak. Keesokan harinya sang ayah meninggal dunia.
Dengan hati polos sang anak pergi ke rumah kos dengan lugu
diam dan duduk di samping ayahnya yang tertidur tanpa nafas, semua orang
menangis, namun dia hanya diam tanpa suara, namun kelamaan dia juga ikut
menangis meski di tidak tahu apa yang terjadi.
Hari berganti kerja di rumah orang rasa nya melelahkan pergi
jam 5 pagi pulang jam 7 malam di usia yang 7 tahun sang anak tidak tahu apa
yang terjadi,,
Disuruh di bentak adalah hal biasa baginya.
Namun seiring bertambahnya usianya dia baru sadar bahwa ia
sangat lelah dan ingin keluar dari pekerjaannya. Dia binggung mau kemana, sang
ibu anak kakak berpencar entah kemana.
2 tahun berkerja di usia 9 tahun dia berani menanyakan gaji
nya kepda tantenya tempat dia tinggal, karena selama ini kalau ada gajinya
selalu di setor sama tantenya. Dengan lugu sang anak berkata
“Tante saya tidak sanggup lagi bekerja di sana saya ingin
keluar dari pekerjaan saya”
Dengan lembut sang tante berkata
“terserah kamu”
“tapi tante saya ingin meminta gaji saya selama saya bekerja”
sambung sang anak
Dengan geram sang tante menjawa “ apa?? Enak sekali kau
minta gaji mu.. jadi selama ini kamu pikr tinggal disini gratis!! Uang makan
kamu berapa!”
Dengan tersedu seduh sang anak menangis karena baru kali ini
dia dimarahi sejak hidupnya.
Lalu pergi kepada sang ibu dan menceritakan semau yang
terjadi, dengan kesal sang ibu menjawab “Sudahlah memang sperti itu saudarah
ayahmu”
Namun sayang anak tidak terima dengan itu.. kata kata
tantenya itu selalu ia ingat sampai hari ini.
Sang anak laki laki inipun mulai berpikir kenapa tante saya begitu
kejam? Padahal saya pergi kerja jam 5 pagi pulang jam 7 malam, sarapan , makan
siang itu di berikan oleh tempat saya bekerja, bahkan kadang saya di beri makan
malam dan saya jarang makan di rumah tante saya..
Dan saat itu ia merindukan sosok ayah, dengan menatap langit ia teringat ketika sang
ayah meminta uang kepda nya, ia sangat menyesal “ andai ayah masih hidup pasti
seluruh gajinya di berikan kepda ayah” gumannya dalam hati. Gajinya yang 100rb
perminggu hilang di telan oleh ke munafikan orang lain.
Dengan semangat anak ini pernah bekerja di laut sebagai
penarik jaring 2 tahun
Dan dengan belaskasih seorang paman anak ini di sekolahkan
dari SD sampai SMA dan sekarang dia hanya menunggu pengumuman kelulusan pada 7
mei mendatang.
Sang anak laki-laki ini memliki cita-cita menjadi seorang
dokter..
Entahlah uang tak ada, bisakah Tuhan mengabulkan doanya
menjadi dokter??
Tunggu kisah selanjudnya.
No comments:
Post a Comment